Minggu, 13 Desember 2015

Ini salah satu pos yang menandakan bahwa kebaikan tak harus dilakukan dengan cara yang mewah. Karena cukup dengan memberinya kasih sayang, mereka sangat senang. Bukan cacian yang mereka butuhkan, mengayomi merekasangat penting. Itu yang saya dan teman kelompok yang waktu itu mengunjungi panti asuhan cacat ganda di Semarang. Orang-otrangnya sangat luar biasa, mereka bisa menutupi semua kekurangannya dengan canda tawa.

Dan ini foto yang kami ambil disana



Senin, 07 Desember 2015

Mengunjungi Makam Mgr. Soegijapranata

         Waktu itu saya dan teman kelompok melakukan kunjungan ke makam Mgr. Soegijapranata dalam rangka tugas kuliah. Saya mendatangi makam Mgr. Soegijaapranata untuk mendoakan almarhum dan membersihkan makamnya. Almarhum sangat berjasa, Ia merupakan pahlawan pendidikan dan juga pelopor agama Katolik. Ia merupakan orang pertama di Indonesia yang di angkat menjadi uskup agung. Beliau sangat berperan penting dalam melindungi pahlawan Indonesia. Semasa hidupnya beliau selalu berbuat kebaikan. Pada tahun 1916 beliau dikirim mengikuti kegiatan imamat dan mulai mendalami ilmu agama Katholik, Bahasa Latin, Yunani, dan filsafat di Gymnasium, Leyden, Belanda. Dari Gymnasium, Soegija kemudian masuk Novisiat SJ di Mariendaal. Ia belajar filsafat di Kolese Berchman, Oudenbosch, pada tahun 1923 sampai 1926.
 
Dan ini salah satu foto kunjungan saya ke makam beliau


Di makam beliau sangat bersih tempatnya, jarang ada kotoran disana. Tempatnya sangat terawat. Menurut saya, Mgr. Soegijapranata pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Karena sepanjang hidupnya selalu mengayomi semua umat beragama.

Minggu, 29 November 2015

Perdamaian Antar Umat

Kerukunan antar umat beragama yang akan diperoleh  merupakan kerukunan yang bukan karena diatur secara eksternal, tetapi karena tumbuh dan berkembang secara otentik dari dalam diri setiap umat beragama dengan cara penghayatan iman yang bersangkutan dan melalui pengalaman iman bersama antar umat beragama. 


Dengan pemahaman itu, kehidupan yang rukun dan damai haruslah berangkat dari tuntutan iman keagamaan dan bukan semata-mata segi praktis dan kegunaannya saja. Kerukunan antar umat beragama merupakan suatu kondisi sosial ketika semua golongan agama mampu hidup bersama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. 

Masing-masing pemeluk agama yang baik haruslah hidup rukun dan damai. Oleh karena itu, kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatisme buta dan sikap tidak peduli atas keberagaman dan perasaaan orang lain. Tetapi hal tersebut tidak diterjemahkan bahwa kerukunan antar umat beragama memberi ruang untuk mencampurkan unsur-unsur tertentu dari agama berbeda, sebab hal itu akan merusak agama itu sendiri. 

Muhammad Maftuh Basyumi, menteri agama, dalam seminar kerukunan antar umat beragama tanggal 31 Desember 2008 di Departemen Agama, mengatakan, kerukunan beragama merupakan pilar kerukunan nasional adalah sesuatu yang dinamis, karena itu harus dipelihara terus dari waktu ke waktu. Kerukunan hidup antar umat beragama sendiri berarti keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, menghargai kesetaraan dalam pengalaman ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan setiap penganutnya, Keyakinan itulah yang menjadi indentitas individual agar agama mampu membangun nilai-nilai keimanan yang luhur dan bermartabat. Nilai-nilai keimanan yang luhur dan bermartabat itulah pada akhirnya mengantar sikap untuk hidup penuh berdampingan antar sesamanya dengan didasari semangat kebebasan beragama, hal inilah tentunya meliputi kebebasan berpikir, berhati nurani, beragama, yang temasuk kebebasan menghayati keyakinan yang dianutnya. Dengan demikian, mewujudkan kerukunan dan membangun sikap damai senantiasa menjadi impian bagi setiap penganutnya masing-masing.

Rabu, 11 November 2015

Menyikapi Perbedaan Dalam Berteman

Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, itulah semboyan negara kita, Indonesia. Bukan hanya berlaku untuk hubungan internasional antar negara, tapi semboyan ini pun layak disandangkan dalam prinsip hubungan pertemanan di hidup keseharian kita. Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki lima kepulauan besar yang didalamnya terdapat keberagaman suku, agama, ras dan budaya yang berbeda. Betapa indahnya sebuah pertemanan bila bisa dijalin diatas semua perbedaan itu. Dan nyatanya memang bisa, kok. Berikut tipsnya untuk sobat Gemintang.
  • Saya putih, kamu hitam, no problem!
Masih saja membedakan teman dari warna kulit? Hei, negara Indonesia terkenal dengan ramah tamahnya. Sikap seperti itu sudah seharusnya tidak ada. Keberagaman justru menjadi ciri bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Positifnya, punya teman yang beda warna kulit justru membuat kita menjadi tidak bosan. Bila dibandingkan dengan hanya berteman sesama warna kulit, bukankah lebih membosankan?
  • Perbedaan pendapat itu biasa
Dalam berteman, hal seperti ini wajar. Perbedaan pendapat yang seringkali menimbulkan pertengkaran, sebenarnya adalah lumrah untuk dihadapi setiap orang. Tetapi pertengkaran bukanlah hal yang seharusnya menimbulkan perpecahan atau konflik berkepanjangan. Sesama teman, ada baiknya bila kita lebih lapang dalam menerima setiap perbedaan. Sila ketiga dalam pancasila adalah Persatuan Indonesia. Tapi bagaimana bisa bersatu bila kelompok kecilnya saja sudah tak lagi saling memelihara.
  • Kenali budayanya
Berbicara dengan orang tidak sebudaya, terkadang memang sedikit membingungkan saat kita tidak tahu topik apa yang akan dibicarakan. Oleh karenanya, mengenali budaya luar tidaklah harus, tapi penting! Penting saat kita diharuskan berteman dengan orang yang tidak sebudaya dengan kita. Luangkan waktu untuk mempelajari sedikit tentang kebudayaan pulau Lombok. Mengapa sedikit? Karena saat kamu tahu bahwa dia (temanmu) berasal dari kepulauan yang sama, kamu bisa bertanya banyak hal dari yang tidak kamu ketahui sebelumnya. Tapi selangi juga dengan pengetahuan yang telah kamu miliki sebelumnya. Biasanya, seseorang akan merasa senang saat ada satu atau dua hal yang orang lain tahu tentang dirinya. Dan setelah itu, dia akan mulai memberikan respon yang baik dengan mencoba mengenali kebudayaanmu.
  • ‘Welcome’
Ungkapan ‘selamat datang’ adalah arti bahwa kamu menerimanya dengan baik dan akan memperlakukannya dengan baik juga. Moralitas dapat mengajarkan kita bagaimana berteman dengan orang berdasarkan kepribadiannya, bukan budaya ataupun bangsa yang dimilikinya. Selama perbedaan itu dihapuskan, maka berteman dengan siapapun bukan lagi menjadi hambatan.
  • Hilangkan asumsi
Sepertinya hanya kita yang walau berkulit hitam, tetap manis dipandang. Sedangkan orang di pulau seberang, melihat struktur tubuh dan mimik mukanya saja sudah bikin ketakutan. Hei sobat, apakah kebaikan dan keburukan seseorang bisa dipandang hanya berdasarkan dari apa yang kita lihat? Hilangkan asumsi seperti itu kepada seseorang yang notabene tidak sebudaya dengan kita. Jangan terlalu cepat berasumsi karena penampilan terkadang bisa menutupi keaslian dari siapa dan seperti apa orang itu sebenarnya. Milikilah rasa pengertian antar sesama. Dengan begitu, menyikapi perbedaan dalam berteman adalah perkara mudah.

Jumat, 30 Oktober 2015

Agama dan Perdamaian

HUBUNGAN antar agama, merupakan tema yang selalu menarik untuk dibicarakan mengingat agama hampir selalu terkait (atau dikaitkan) dengan persoalan konflik dan dialog, konfrontasi dan kerja sama, toleransi dan fanatisme, serta perang dan perdamaian. Demikian pula, cita-cita untuk mewujudkan kerukunan beragama hampir selalu menyinggung persoalan agama dan perdamaian, karena kerukunan tidak mungkin diwujudkan dalam kondisi perang yang disebabkan oleh sentimen apa pun, termasuk sentimen keagamaan.
Agama sebagai sebuah fenomena sosial, tentu tidak akan pernah final dibicarakan dan ditafsirkan; agama selalu hidup dalam sejarah umat manusia dan mengikuti perkembangan zaman. Dari waktu ke waktu agama mengalami penafsiran ulang yang kadang digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk membela kepentingannya.
Murad W Hofmann (2006), sebagai tokoh yang sangat concern terhadap perdamaian agama, berusaha mempertemukan antara agama, dalam hal ini misalnya, Islam dan Kristen, dengan membuka jalan dialog, kerjasama dan alternatif lainnya. Selama ini, kedua agama ini saling menyimpan kecurigaan yang kuat dan tak jarang hingga meletuskan konflik dan konfrontasi yang destruktif bagi tumbuhnya keharmonisan bagi antar pemeluk agama.
Tragedi 11 September 2001 yang lalu, merupakan problem yang ujung-ujungnya sengketa antar agama. Sehingga fenomena terorisme seringkali dikaitkan dengan agama. Gerakan ini muncul di dunia yang telah kehilangan kepastian akibat kemajuan sains dan teknologi sejak tahun 1950-an. Seiring dengan kendala kemiskinan, penyakit, dan kondisi pekerjaan yang tidak manusiawi, ledakan penduduk, penyebaran AIDS, polusi dan krisis energi yang merebak ke permukaan. Semua momok ini membuat manusia ingin kembali bersandar pada penjelasan-penjelasan apokaliptik (Gilles Kepel, The Revenge of God: The Resurgence of Islam, Christianity, and Judaism in the Modern World, 1994).
Selain itu, kenyataan pularisme agama dan budaya membuat umat beragama harus menegaskan kembali identitas keagamaan di tengah-tengah umat beragama lain yang juga eksis. Pluralisme keagamaan sudah menjadi kenyataan sejarah yang tidak mungkin bisa dihindari, menafikan pluralisme sama artinya dengan menafikan keberadaan manusia itu sendiri. Namun, pluralisme dan perbedaan (eksoterik) agama sering menjadi sumber konflik dan ketegangan di antara umat beragama. Bahkan umat beragama sebagian besar masih memandang agama lain dalam konteks "superior" dan "inferior".
Jika agama dipandang "superior" dan "inferior," maka hubungan-hubungan konfliktual tak bisa dihindarkan. Sebagian besar konflik antar-agama maupun budaya saat ini merupakan akibat penghinaan. Misalnya, banyak dari hal-hal yang terjadi di dunia Islam saat ini, yang secara simplistik dianggap sebagai fundamentalisme, merupakan penegasan terhadap identitas kultural yang selama ini dianggap inferior. Demikian halnya dengan berbagai konflik yang terjadi di Tanah Air, sebagian (atau mungkin seluruhnya) muncul sebagai akibat penghinaan dan sikap tidak adil yang dipraktikkan sekelompok orang atas kelompok lain yang justru jumlahnya lebih besar.
Oleh karena itu, menarik memperhatikan tesis Huntington (The Clash of Civilizations and the Remaking of the World Order, 1996) yang mendefinisikan "peradaban" sebagai pengelompokan terbesar masyarakat yang melampaui tingkat pembedaan manusia dari spesies lainnya. Sebuah peradaban ditentukan oleh anasir-anasir objektif bersama-bahasa, sejarah, agama, adat, dan lembaga-lembaga-juga oleh swa-identifikasi masyarakat. Huntington menyatakan, kini ada tujuh atau delapan peradaban besar di dunia: Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Kristen Ortodoks, Amerika Latin, dan "mungkin" Afrika.
Teori Huntington berusaha menentang skenario "akhir sejarah" pasca-perang dunia mengenai sebuah tatanan internasional berdasarkan penerimaan universal atas model ekonomi kapitalis, tanpa perubahan pada cakrawala sejarah manusia selanjutnya. Arti penting tesis Huntington ini terletak pada faktor-faktor kultural yang bisa dipertimbangkan sebagai perkembangan yang amat positif.
Hingga kini, hubungan dan konflik antarnegara sudah terbiasa dijelaskan menurut analisis ekonomi. Lembaga-lembaga politik tumbuh di luar struktur kekuatan ekonomi, dan budaya adalah ekonomi, dalam arti, di Barat, sistem pasar menentukan kerangka nilai-nilai umum yang dalam teori seharusnya secara independen dimunculkan oleh budaya sendiri.
Namun, Huntington seolah melihat peradaban sebagai blok monolitik. Padahal, dalam kenyataan tidak demikian. Sebagian peradaban, misalnya peradaban Islam, terutama ditentukan oleh wahyu keagamaan; yang lain, seperti Konfusius, ditentukan oleh hubungan antara agama yang mengilhami mereka dan kekuasaan politik yang kurang jelas. Dalam peradaban Barat, versi Katolik atau Protestan dari agama Kristen membentuk bagian dari lanskap budaya mereka, meski masyarakat negara-negara Barat amat terbagi berdasar kepercayaan keagamaannya. Dalam setiap peradaban, ada beberapa tren pemikiran yang mengikuti garis-garis pengakuan, dan yang lain mengikuti garis-garis penempatan-subjek perdebatan yang kini hidup di negara-negara seperti Turki dan Italia.
Oleh karena itu, alih-alih dilihat sebagai sebab hubungan konfliktual, perbedaan di antara budaya-budaya dan agama-agama seharusnya bisa menjadi sumber pengalaman untuk saling melengkapi. Budaya-budaya dan agama-agama yang berbeda memiliki instrumen-instrumen intelektual, simbolik, dan eksistensial yang memberi pandangan spesifik tentang realitas personal, historis, dan kosmik, tetapi ia tidak harus menjadi pandangan yang dipaksakan. Tentu saja, saling memperkaya hanya mungkin dilakukan jika kelompok-kelompok yang berbeda mengorganisasi sifat mereka yang terbatas melalui dialog yang konstruktif.
Dialog bukan berarti pengkhianatan; ia berarti pengakuan terhadap sudut pandang lain dan pengalaman lain dalam kejujuran dan koherensi mereka. Ia juga mengimplikasikan integrasi berbagai anasir berharga dari tradisi-tradisi lain, tanpa takut kehilangan identitas. Dalam mencari masa depan manusia yang lebih masuk akal, orang-orang Barat bisa belajar dari budaya-budaya lain mengenai perasaan untuk komunitas, yang bisa menjadi penyeimbang individualisme Barat, atau praktik-praktik ekologis dalam keselarasan bersama alam, yang bisa menyeimbangkan filsafat dominasi Barat.
Satu jaminan perdamaian di antara berbagai budaya dan peradaban adalah perdamaian antar-agama. Seluruh agama besar dunia menyeru pada perdamaian, kasih sayang, keselarasan, simpati, keadilan, kedermawanan, kepedulian, dan kelembutan. Agama-agama seharusnya tidak hanya mengajarkan nirkekerasan dalam komunitas mereka sendiri, tetapi juga mempraktikkan sebuah dialog yang penuh pengertian dan kesantuan dengan agama-agama lain, serta membela kebebasan beragama-legislasi yang menghormati kebebasan hati nurani dari setiap manusia, dan memungkinkan praktik setiap agama dalam teritori historis agama-agama lain. Dan agama-agama seharusnya bisa menyetujui serangkaian kriteria etik universal untuk memberikan basis bagi perdamaian di dunia, dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk kesepakatan antarbudaya dan politik berdasarkan nirkekerasan dan saling menghormati.
Perjuangan untuk perdamaian, hari demi hari dimenangkan dalam keragaman situasi lokal. Keragaman budaya yang demikian menakutkan Huntington adalah kenyataan hidup di banyak sekolah, lingkungan, dan tempat kerja, dan semuanya bisa dipertimbangkan sebagai persoalan atau sesuatu yang harus dinikmati. Bagi kita, kemenangan kecil dari sebuah dialog, penghormatan, dan kasih sayang untuk "orang lain" adalah benih-benih dari demokrasi multibudaya baru. Memang itu semua masih permulaan, tetapi ia merupakan jalan yang sangat penting menuju perdamaian universal.